Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Kisah Haru Alif, Pemuda Situbondo Rela Kerja 12 Jam Tanpa Libur Demi Menghidupi Keluarga

Ahmad Rifa'ie • Minggu, 28 Juni 2026 | 20:41 WIB
DEMI KELUARGA: Alif Maulana sedang meracik kopi saat bekerja sebagai barista di BR Cafe and Resto Situbondo, Minggu (28/6). Ahmad Rifa
DEMI KELUARGA: Alif Maulana sedang meracik kopi saat bekerja sebagai barista di BR Cafe and Resto Situbondo, Minggu (28/6). Ahmad Rifa'ie/JPRS

RADARSITUBONDO.ID - Zulfikar Alif Maulana, 20, warga Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Panji, Situbondo, rela bekerja setiap hari tanpa mengenal hari libur demi membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Keputusan itu diambil setelah kondisi ekonomi keluarganya menurun sejak pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

Alif bekerja sebagai barista di sebuah kafe yang berada di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo. Hampir setiap hari dia menjalani pekerjaannya tanpa libur karena merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu perekonomian keluarga.

Sejak pandemi Covid-19 pada 2019–2020, ayahnya yang bekerja sebagai pengrajin mebel mengalami penurunan pendapatan sehingga tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. "Bapak kerja mebel. Pendapatannya menurun sejak Covid, jadi saya harus bekerja sendiri dan tidak melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya," katanya.

Setiap hari Alif bekerja selama sekitar 12 jam, mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB. Rutinitas tersebut dijalaninya dengan penuh semangat karena bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk membantu keluarga.

Dia juga berusaha memberikan pelayanan terbaik agar pelanggan merasa nyaman dan kembali menikmati secangkir kopi di kafe tempatnya bekerja. "Setiap hari di tempat kerja bisa bertemu dengan orang-orang baru. Itu yang membuat pekerjaan ini tetap menyenangkan, meski di balik itu ada tanggung jawab yang besar. Keluarga menjadi motivasi terbesar saya," tambahnya.

Alif, sapaan akrabnya, mulai bekerja di kafe tersebut sejak lulus dari SMK Negeri 1 Panji pada tahun lalu. Tanpa menunggu lama, dia langsung diterima sebagai barista. Meski harus bekerja hampir setiap hari, dia mengaku tidak merasa jenuh karena yakin setiap pekerjaan memiliki tantangan tersendiri.

"Saat ini adik pertama saya sudah kelas lima SD, sedangkan adik bungsu masih berusia tiga tahun. Jadi saya harus ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga," ungkapnya.

Dari pekerjaannya sebagai barista, Alif memperoleh penghasilan sekitar Rp1,2 juta per bulan. Menurutnya, nominal tersebut memang belum besar, tetapi cukup berarti untuk membantu kebutuhan rumah tangga.

Dia menyadari penghasilannya saat ini belum mampu mengubah kondisi ekonomi keluarga secara drastis, namun tetap optimistis bahwa kerja kerasnya akan membuahkan hasil.

"Semua ada prosesnya. Semua orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya," ujarnya.

Ke depan, Alif bercita-cita memiliki usaha sendiri. Untuk mewujudkan impian tersebut, dia berusaha menyisihkan sebagian penghasilannya meski belum memiliki tabungan yang cukup. "Keinginan untuk punya usaha sendiri pasti ada. Tapi saat ini saya masih fokus bekerja dan membantu keluarga. Soal tabungan, masih saya kumpulkan sedikit demi sedikit," tutupnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #jual kopi #barista