RADARSITUBONDO.ID - Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang pemimpin Libya Muammar Khadafi, dilaporkan meninggal dunia setelah menjadi sasaran serangan bersenjata di kediamannya di Zintan, wilayah Libya barat, Selasa (siang waktu setempat).
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 14.00. Penasihat politik Saif, Abdullah Othman Abdurrahim, mengungkapkan bahwa empat orang bersenjata yang mengenakan penutup wajah menerobos rumah korban. Para pelaku lebih dulu merusak sistem kamera pengawas sebelum terjadi baku tembak yang menewaskan Saif al-Islam di lokasi.
Saif al-Islam, yang berusia 53 tahun, selama bertahun-tahun dikenal sebagai figur penting dalam lingkar kekuasaan Libya. Ia kerap disebut sebagai calon penerus Muammar Khadafi dan dianggap sebagai tokoh kedua paling berpengaruh di negara itu pada periode 2000–2011, sebelum rezim Khadafi tumbang akibat pemberontakan yang didukung NATO.
Baca Juga: Kepergok Bolos di Pantai Pathek, Satpol PP Situbondo Amankan 5 Pelajar Saat Jam Sekolah
Moussa Ibrahim, juru bicara terakhir Muammar Khadafi, menyebut kematian Saif sebagai hasil pengkhianatan. Ia mengaku sempat berbincang dengan Saif dua hari sebelum kejadian. Menurut Ibrahim, Saif kala itu hanya berbicara soal harapan akan Libya yang damai serta keselamatan rakyatnya.
Lulusan London School of Economics dengan gelar doktor pada 2008, Saif al-Islam pernah dipandang sebagai wajah moderat dan progresif dari pemerintahan Khadafi. Ia berperan dalam upaya normalisasi hubungan Libya dengan negara-negara Barat pada awal dekade 2000-an.
Namun, citranya runtuh saat gelombang Arab Spring 2011. Pernyataannya yang mengancam akan mengalirkan “sungai darah” untuk menghadapi pemberontakan menuai kecaman luas. Saif kemudian ditahan di Zintan sejak 2011 sebelum dibebaskan pada 2017 melalui kebijakan amnesti umum.
Baca Juga: Hujan Angin Picu Pohon Mahoni Tumbang di Kilensari, Jalan Tembus Panarukan Sempat Lumpuh
Pada 2021, Saif sempat menyatakan maju sebagai calon presiden Libya. Namun, pemilu tersebut hingga kini ditunda tanpa kejelasan jadwal.
Tim politik Saif mendesak pemerintah Libya serta komunitas internasional untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh guna mengungkap pelaku dan aktor intelektual di balik pembunuhan ini.
Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab. Libya sendiri masih dilanda instabilitas akibat konflik berkepanjangan antara pemerintahan di Tripoli dan otoritas di wilayah timur, serta maraknya kekerasan milisi.
Editor : Ali Sodiqin