RADARSITUBONDO.ID - Aktivitas di ibu kota Pakistan nyaris lumpuh. Jalan-jalan utama ditutup rapat, sementara aparat militer dan pasukan paramiliter disiagakan penuh.
Situasi ini menyusul persiapan Pakistan menjadi tuan rumah negosiasi penting antara Iran dan Amerika Serikat yang diharapkan membuka jalan menuju akhir konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Pengetatan keamanan dilakukan saat kondisi gencatan senjata antara Iran dan AS masih berada di titik rawan. Ketegangan belum sepenuhnya mereda, terlebih dengan serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon serta perbedaan pandangan terkait kerangka perundingan.
Meski begitu, otoritas Pakistan memastikan agenda pembicaraan tetap berjalan sesuai jadwal pada akhir pekan.
Baca Juga: Liverpool Umumkan Kepergian Andrew Robertson, Laga Kontra Brentford Jadi Momen Pamitan
Konflik yang pecah sejak akhir Februari, ketika serangan militer dilancarkan terhadap Iran, telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta mengguncang perekonomian global.
Dampak paling terasa muncul dari penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz oleh Iran, yang memicu kelangkaan pasokan energi dunia dan memperburuk krisis energi secara luas.
Upaya diplomatik Pakistan mulai menunjukkan hasil setelah mediasi intensif dilakukan. Pada Selasa malam, kedua pihak akhirnya sepakat menjalankan gencatan senjata selama dua pekan.
Kesepakatan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras bahwa “seluruh peradaban akan mati” jika Iran tidak memenuhi tuntutan yang diajukan.
Baca Juga: Friedrich Merz Kritik Keras Israel, Konflik Lebanon Dinilai Hambat Proses Damai
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Iran dan AS setuju untuk melanjutkan dialog langsung di Islamabad guna merumuskan perdamaian jangka panjang. Langkah ini dipandang sebagai capaian diplomatik penting bagi Pakistan yang berperan sebagai mediator.
Namun, sejumlah persoalan mendasar masih membayangi. Perbedaan tafsir mengenai cakupan gencatan senjata menjadi salah satu titik krusial.
Iran dan Pakistan menilai kesepakatan tersebut juga mencakup wilayah Lebanon, sementara AS dan Israel memandangnya sebagai isu terpisah.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negosiasi tidak akan memiliki arti jika serangan di Lebanon tetap berlangsung. Ia menyebut pembicaraan damai akan “tidak berarti” dalam kondisi tersebut.
Baca Juga: Barcelona Ajukan Investigasi UEFA Usai Insiden Handball di Camp Nou
Di balik layar, komunikasi intensif terus dilakukan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan bahwa Pakistan memainkan peran aktif dalam menjaga stabilitas gencatan senjata.
Ia bahkan mengklaim Pakistan turut mencegah respons militer Iran terhadap serangan di Lebanon demi menjaga peluang dialog tetap terbuka.
Menjelang pertemuan perdana yang dijadwalkan Sabtu, suasana Islamabad berubah drastis. Pemerintah menetapkan hari libur nasional pada Kamis dan Jumat, membuat jalanan ibu kota tampak lengang. Pengamanan diperketat di berbagai titik strategis, termasuk area yang kemungkinan menjadi lokasi perundingan.
Baca Juga: Realme C100 4G Resmi Rilis, Baterai 8000 mAh dan Fast Charging 45W
Pemerintah Pakistan memilih menutup rapat detail teknis pertemuan dengan alasan keamanan dan sensitivitas diplomatik. Meski demikian, seorang pejabat yang terlibat dalam persiapan memastikan seluruh proses berjalan sesuai rencana.
“Prioritas kami adalah agar pembicaraan berjalan lancar,” ujarnya.
“Kami tidak ingin dianggap sebagai perusak. Peran kami adalah sebagai fasilitator dan mediator. Kami akan menyerahkan kepada kedua pihak, Iran dan AS, untuk membagikan perkembangan apa pun kepada media jika mereka menginginkannya.”
Delegasi dari kedua negara dijadwalkan tiba secara bertahap sejak Kamis malam hingga Jumat pagi. Dari pihak AS, tim negosiasi akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Sementara itu, Iran akan mengirim Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, bersama sejumlah pejabat senior lainnya termasuk dari Garda Revolusi.
Baca Juga: Jadwal Timnas Indonesia U-17 di Piala AFF 2026: Target Lolos Semifinal
Tak hanya kedua negara tersebut, sejumlah perwakilan dari negara Teluk seperti Qatar dan Arab Saudi juga diperkirakan hadir di Islamabad. Kehadiran mereka membuka peluang pembicaraan tambahan di luar agenda utama, mengingat kawasan tersebut turut terdampak langsung oleh eskalasi konflik.
Pengamanan ekstra ketat membuat beberapa lokasi disiapkan sebagai opsi tempat pertemuan. Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah hotel mewah Serena di Islamabad.
Hotel ini telah dikosongkan dan seluruh akses jalan di sekitarnya ditutup dalam radius sekitar tiga kilometer di bawah pengawasan militer. Selain itu, sekretariat perdana menteri, pusat konvensi Islamabad, hingga fasilitas militer disebut menjadi alternatif lokasi perundingan.
Baca Juga: Fitur Baru Instagram, Komentar Kini Bisa Diedit dalam 15 Menit
Belum ada kepastian mengenai durasi negosiasi. Namun, indikasi awal menunjukkan pembicaraan bisa berlangsung hingga akhir pekan.
Para tamu yang sebelumnya menginap di hotel Serena telah diminta meninggalkan lokasi dengan pemberitahuan bahwa area tersebut akan digunakan setidaknya sampai Minggu malam.
Editor : Bayu Shaputra