RadarSitubondo.id – Kecelakaan maut yang menimpa Sudja’i warga Desa Lamongan, Kecamatan Arjasa, menyisakan kisah pilu bagi sejumlah saksi mata.
Salah satunya Hannan, 61, tukang becak yang menunggu penumpang di pinggir Jalan Raya, Desa Landangan, Kecamatan Kapongan. Saat kejadian, dia melihat sendiri peristiwa tersebut tepat di depan matanya.
Hampir semua orang yang lewat mendekati Hannan. Mereka ingin mengetahui cerita kecelakaan yang sebenarnya.
Bahkan, Hannan rela mengulang cerita kesaksiannya dari awal kepada setiap orang yang bertanya.
Hannan bercerita secara spontan. Dia tidak takut menyampaikan kronologis kecelakaan meski saat itu banyak polisi di lokasi kejadian mengevakusi bangkai truk.
“Truk guling tepat di depan saya. Saya hanya melihat dan tidak bisa ngapa-ngapain,” Kata Hannan sambil duduk di atas becaknya, Minggu (7/4).
Kata Hannan, saat dirinya melihat truk dengan posisi melaju dari arah timur seperti orang yang dihipnotis.
Badannya juga terasa sulit untuk diajak kompromi, sebab dia hanya punya pikiran untuk lari tapi badannya tidak mendukung. Padahal truk dengan jelas akan menyasar dirinya.
“Saya melihat betul kejadiannya, cuma saya panik tidak bisa ngapa-ngapain. Saya baru bangun dari tempat duduk saya setelah banyak orang datang dan menolong Ustad Suja’i yang sudah meninggal dunia. Saya benar-benar kaget,” ucap Hannan sambil meneguk air dingin yang dibelikan salah satu warga.
Dia memilih membatalkan puasa akibat kaget. Padahal, sebelumnya dia tidak pernah berhenti puasa meskipun kerjaannya setiap hari menerima jasa antar jemput penumnpang menggunakan becak.
“Tadi saya puasa, tapi karena benar-benar kaget saya membatalkan puasa. Mohon maaf sejak awal belum pernah tidak puasa,” imbuh Hannan. (hum/pri)
Editor : Ali Sodiqin