Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Pop Culture Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling ZodiPedia

Unik! Warga Desa Olean Rayakan 10 Muharram dengan Makan Tajhin Sora dan Ritual Pemandian Pusaka

Ahmad Rifa'ie • Senin, 29 Juni 2026 | 20:01 WIB
MOMEN SAKRAL: warga dan undangan mengikuti ritual doa sebelum menyantap Tajhin Sora dan prosesi pemandian pusaka berupa keris serta trisula di Desa Olean, Kecamatan Situbondo, Minggu (28/6) malam. Ahmad Rifa
MOMEN SAKRAL: warga dan undangan mengikuti ritual doa sebelum menyantap Tajhin Sora dan prosesi pemandian pusaka berupa keris serta trisula di Desa Olean, Kecamatan Situbondo, Minggu (28/6) malam. Ahmad Rifa'ie/JPRS

RADARSITUBONDO.ID - Perayaan 10 Muharram bagi masyarakat Desa Olean, Kecamatan Situbondo, bukan sekadar selamatan desa atau rokat (selamatan tanah). Pada momen tersebut, warga masih mempertahankan tradisi leluhur yang kini mulai jarang ditemui di desa-desa lain di Situbondo, yakni menyajikan Tajhin Sora (bubur Asyura) untuk disantap bersama sebelum prosesi pemandian pusaka atau Tosan Aji, Minggu (28/6) malam.

Sebelum prosesi penyucian pusaka desa dimulai, masyarakat terlebih dahulu menggelar doa bersama, mengaji, dan makan Tajhin Sora di lokasi pemandian pusaka. Tradisi ini telah dilestarikan selama bertahun-tahun sebagai bentuk penghormatan kepada warisan leluhur sekaligus momentum penyucian diri menyambut Tahun Baru Islam.

Kepala Desa Olean, Ansori, mengatakan tradisi tersebut bukan sekadar perayaan budaya, melainkan juga upaya merawat dan melestarikan pusaka peninggalan para leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

"Tradisi ini bukan inovasi baru, melainkan warisan para sesepuh yang wajib kita jaga. Jangan sampai generasi muda melupakan akar budaya mereka," ujarnya.

Ansori menjelaskan, tradisi makan Tajhin Sora bersama menjadi simbol kuatnya persaudaraan masyarakat Desa Olean. Beragam bubur Asyura yang dibuat warga dari setiap lingkungan desa dihiasi berbagai lauk-pauk yang melambangkan rasa syukur, kebersamaan, dan kepedulian antarsesama.

"Saya bersyukur, meski zaman semakin modern, masyarakat Desa Olean masih mampu mempertahankan budaya leluhurnya," katanya.

MOMEN SAKRAL: warga dan undangan mengikuti ritual doa sebelum menyantap Tajhin Sora dan prosesi pemandian pusaka berupa keris serta trisula di Desa Olean, Kecamatan Situbondo, Minggu (28/6) malam. Ahmad Rifa
MOMEN SAKRAL: warga dan undangan mengikuti ritual doa sebelum menyantap Tajhin Sora dan prosesi pemandian pusaka berupa keris serta trisula di Desa Olean, Kecamatan Situbondo, Minggu (28/6) malam. Ahmad Rifa'ie/JPRS

Setelah makan bersama, rangkaian acara dilanjutkan dengan pengajian sebagai bentuk refleksi spiritual masyarakat. Puncaknya adalah prosesi Tosan Aji atau pemandian pusaka yang melambangkan penyucian diri dan penghormatan terhadap warisan leluhur dalam menyambut Tahun Baru Islam.

"Walaupun sederhana, kami tetap berupaya membuat acara ini semeriah mungkin," tambah Ansori.

Dia menjelaskan, prosesi pemandian pusaka dilakukan oleh kepala adat setempat sambil diiringi doa-doa. Pusaka yang dimandikan merupakan benda bersejarah yang menjadi simbol penghormatan kepada jasa para leluhur.

"Tradisi ini mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Bahkan, kemungkinan hanya Desa Olean yang masih mempertahankan tradisi seperti ini di Situbondo," ungkapnya.

Ansori berharap tradisi tersebut tetap lestari meski perkembangan teknologi terus berlangsung. Menurutnya, warisan budaya seperti makan Tajhin Sora bersama dan pemandian pusaka merupakan kekayaan leluhur yang harus terus dijaga. "Dengan menjaga tradisi ini, kami berharap masyarakat tetap hidup rukun, memperoleh keberkahan, serta membawa kesejahteraan bagi warga Desa Olean dan Kabupaten Situbondo pada umumnya," pungkasnya. (rif/pri)

Editor : Edy Supriyono
#situbondo #10 asyura #10 Muharram