Anime Berita Daerah Edukasi Ekonomi Bisnis Health Internasional Kasuistika Khazanah Kuliner Lifestyle Nasional Opini Otomotif Politik & Pemerintahan Seni & Budaya Sport Teknologi Travelling

Perbedaan Dampak Ekonomi Penjajahan Belanda dan Inggris

Bayu Shaputra • Selasa, 19 Agustus 2025 | 19:30 WIB
Perbedaan dampak ekonomi bagi sebuah negara setelah dijajah Belanda atau Inggris.
Perbedaan dampak ekonomi bagi sebuah negara setelah dijajah Belanda atau Inggris.

RADARSITUBONDO.ID - Indonesia mengalami dua jenis penjajahan yang sangat berbeda selama ratusan tahun. Penjajahan Belanda yang berlangsung berabad-abad dari akhir abad ke-16 hingga abad ke-20, dan penjajahan Inggris yang hanya bertahan selama lima tahun dari tahun 1811 hingga 1816, ternyata memberikan dampak ekonomi yang kontras dan menarik untuk dipelajari.

Penjajahan Belanda dengan sistem seperti Tanam Paksa dan Ekonomi Liberal menyebabkan penderitaan yang sangat besar bagi rakyat Indonesia, di mana keuntungan hanya diperoleh untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda. Model ekonomi yang eksploitasi ini dirancang khusus untuk mengambil sumber daya alam Indonesia secara maksimal.

Dampak yang paling terlihat adalah adanya monopoli perdagangan yang ketat. Belanda melalui VOC mengontrol jalur perdagangan rempah-rempah penting, memaksa petani lokal untuk menanam komoditas tertentu yang menguntungkan bagi perusahaan dagang Belanda.

Sistem seperti kultuur stelsel atau tanam paksa memaksa rakyat untuk menyerahkan seperlima dari lahan dan waktu kerja mereka untuk tanaman ekspor seperti kopi, tebu, dan nila.

Akibatnya sangat merugikan, masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk berdagang secara bebas dan terpaksa menjual hasil bumi mereka kepada pedagang asing dengan harga yang tidak menguntungkan. Sistem ini menimbulkan ketergantungan ekonomi yang menyengsarakan, di mana Indonesia hanya berfungsi sebagai penghasil bahan mentah untuk industri Belanda.

Berbeda dengan Belanda, penjajahan Inggris meski hanya lima tahun membawa perubahan penting dalam pemerintahan, ekonomi, dan sosial budaya. Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur memperkenalkan pendekatan yang lebih liberal dan progresif.

Raffles menghapus berbagai bentuk penyerahan wajib dan sistem pajak yang memberatkan, serta memberikan kebebasan dalam usaha perdagangan dengan memberi kesempatan kepada rakyat untuk menanam tanaman yang dibutuhkan di pasar internasional. Kebijakan ini memberikan angin segar bagi ekonomi rakyat yang selama berabad-abad tertekan oleh sistem monopoli Belanda.

Raffles juga mengenalkan sistem pajak tanah yang menggantikan sistem penyerahan hasil bumi. Dalam sistem baru ini, petani membayar pajak dalam bentuk uang sesuai dengan luas dan kesuburan tanah mereka, bukan menyerahkan hasil panen secara paksa. Ini memberikan kebebasan kepada petani untuk memilih jenis tanaman yang ingin mereka tumbuhkan.

Walaupun Raffles memiliki pandangan yang maju dan ingin memperbaiki kondisi wilayah jajahan serta meningkatkan kesejahteraan rakyat, dalam praktiknya ia menghadapi banyak kendala. Namun, prinsip-prinsip liberal yang diterapkannya memberi gambaran tentang bagaimana sistem ekonomi yang lebih adil bisa diimplementasikan.

Perbedaan utama terletak pada filosofi, Belanda menggunakan sistem ekonomi yang sepenuhnya eksploitasi, sementara Inggris berusaha mengembangkan sistem yang lebih berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi ekonomi lokal.

Meskipun pemerintah Inggris tidak mendapat keuntungan yang besar, tetapi rakyat Indonesia merasakan sedikit kebebasan ekonomi dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda.

Sistem-sistem yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda seperti Tanam Paksa, Kultuurstelsel, Liberalisme, Ethische Politiek, dan Balans Politiek bertujuan untuk mengambil sumber daya alam dan tenaga kerja dari Indonesia untuk kepentingan Belanda. Sebaliknya, pendekatan Inggris lebih menekankan pengembangan kapasitas lokal meskipun tetap dalam konteks kepentingan kolonial.

Jejak perbedaan ini masih dapat dirasakan hingga saat ini. Struktur ekonomi Indonesia yang cenderung bergantung pada ekspor bahan mentah dan lemah dalam industri pengolahan, sebagian besar merupakan warisan dari sistem ekonomi kolonial Belanda yang bersifat eksploitasi.

Sementara itu, wilayah-wilayah yang dulunya dijajah oleh Inggris seperti Malaysia dan Singapura cenderung lebih berhasil dalam mengembangkan sistem ekonomi yang lebih maju dan bervariasi.

Berbagai cara yang digunakan oleh dua kekuatan penjajah ini dalam ekonomi memberikan pelajaran penting tentang bagaimana keputusan ekonomi yang diambil untuk waktu lama bisa mempengaruhi sifat serta organisasi ekonomi suatu negara selama ratusan tahun ke depan.


Editor : Ali Sodiqin
#belanda #Kolonialisme #Inggris