RADARSITUBONDO.ID - Kebiasaan menggigit kuku atau onychophagia adalah sesuatu yang sering ditemui pada anak-anak usia 3 sampai 10 tahun. Walaupun terlihat sepele, jika tidak ditangani dengan baik, kebiasaan ini bisa terus berlanjut sampai mereka dewasa.
Baca Juga: DPC PPP Situbondo Turun ke Lokasi Gempa Banyuputih, Bukti Nyata Peduli Rakyat Bukan Cuma Saat Pemilu
Stres dan ketidaknyamanan adalah alasan terbesar. Anak yang merasa tertekan karena sekolah, masalah dengan teman, atau masalah di rumah sering kali menggigit kuku untuk merasa lebih baik. Melakukan hal ini berulang kali bisa memberi sedikit rasa tenang pada mereka.
Rasa bosan atau tidak ada kegiatan juga bisa jadi penyebab. Ketika anak duduk menonton TV, mengerjakan tugas sekolah, atau punya waktu kosong, mereka bisa menggigit kuku tanpa sadar sebagai cara mengisi waktu.
Kebiasaan ini sering dimulai karena meniru orang tua atau saudara yang juga melakukannya. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat, jadi jika di sekitar mereka ada yang menggigit kuku, mereka mungkin akan melakukan hal yang sama.
Perfeksionisme juga bisa berperan. Beberapa anak merasa tidak nyaman jika kuku mereka terlihat tidak rapi atau kasar, jadi mereka berusaha "merapikannya" dengan menggigitnya.
Baca Juga: Realme 15 Series 5G Meluncur, Siap Gebrak Pasar Indonesia di Kelas Menengah?
Cara Mengatasi Efektif
Cari tahu apa yang membuat anak menggigit kuku: Amati kapan anak melakukan ini. Apakah mereka melakukannya saat merasa cemas, bosan, atau di momen tertentu? Mengetahui kapan dan mengapa bisa membantu membuat rencana yang lebih baik.
Jaga kuku tetap pendek: Kuku yang pendek dan terawat membuat anak kurang tergoda untuk menggigitnya karena tidak ada yang bisa digigit.
Baca Juga: Realme 15 Pro Edisi Game of Thrones Resmi Meluncur, Ini Perbedaan dengan Series Standarnya!
Berikan alternatif sehat: Sediakan mainan yang bisa diputar, bola stres, atau aktivitas tangan lainnya untuk mengalihkan perhatian. Ini sangat membantu untuk anak yang menggigit kuku karena merasa bosan.
Gunakan pendekatan yang positif: Jangan marah atau menghukum. Cobalah memberi pujian atau tanda penghargaan setiap kali anak berhasil tidak menggigit kuku.
Ajarkan teknik relaksasi: Perkenalkan cara bernapas yang dalam atau aktivitas menenangkan lainnya untuk membantu anak mengatasi rasa cemas dengan cara yang lebih baik.
Konsultasi profesional: Jika kebiasaan ini terus berlanjut lebih dari enam bulan atau menyebabkan luka, infeksi, atau pendarahan di kuku, sebaiknya bawa anak ke psikolog anak atau dokter untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.
Dengan kesabaran dan pendekatan yang konsisten, kebiasaan menggigit kuku bisa diperbaiki secara bertahap.
Editor : Ali Sodiqin