RADARSITUBONDO.ID - Selama lebih dari tiga dekade, film "Pengkhianatan G30S/PKI" karya Arifin C. Noer yang diproduksi 1984 menjadi instrumen propaganda visual berpengaruh dalam sejarah perfilman Indonesia.
Film ini ditayangkan di televisi setiap 30 September dan dijadikan materi pembelajaran wajib di sekolah hingga 1998. Dampaknya terhadap kesadaran historis generasi muda Indonesia sangat besar, meninggalkan jejak psikologis dan sosial yang terasa hingga kini.
Baca Juga: Cara Mengatasi BCA Mobile Tidak Bisa Login - Tidak Bisa Dibuka
Film berdurasi empat setengah jam ini menampilkan kekerasan eksplisit, terutama penyiksaan dan pembunuhan jenderal di Lubang Buaya.
Brutalitas visual seperti pencungkilaan mata menciptakan trauma kolektif bagi jutaan anak sekolah yang dipaksa menontonnya.
Generasi yang lahir antara 1970-an hingga awal 1990-an memiliki ingatan kuat tentang ketakutan yang mereka rasakan saat menontonnya.
Baca Juga: Kode Error BCA Mobile yang Wajib Diketahui Nasabah: Arti dan Cara Mengatasinya
Dampak psikologis jangka panjang dari eksposur berulang terhadap kekerasan menciptakan konstruksi mental yang mengaitkan komunisme dengan kekejaman.
Bagi generasi Orde Baru, PKI bukan hanya partai politik yang kalah, tetapi simbol kejahatan absolut yang harus ditakuti dan dibenci.
Baca Juga: Kenapa BCA Mobile Error Hari Ini? Penyebab dan Solusi Terbaru
Di pendidikan formal, film ini digunakan sebagai "sumber sejarah" yang tidak boleh dipertanyakan. Guru diinstruksikan memutar film tahunan tanpa konteks kritis atau pandangan sejarah yang beragam.
Metode ini mengikis kemampuan berpikir kritis siswa, karena mereka menerima narasi tunggal sebagai kebenaran mutlak.
Baca Juga: STAINH Wisuda Puluhan Mahasiswa, Empat Hafidz Al-Quran Dapat Penghargaan
Praktik pemutaran di sekolah menciptakan ritual tahunan yang memperkuat stigmatisasi terhadap ideologi kiri atau PKI.
Anak-anak dari keluarga yang dicurigai PKI mengalami tekanan sosial dan diskriminasi yang diperkuat narasi film. Generasi muda mengembangkan pemahaman bahwa anti-komunisme adalah bagian dari identitas nasional Indonesia.
Baca Juga: Fraksi Golkar Geram! Desak BRI Tunda PHK CT hingga Korban Penipuan Dapat Keadilan Penuh
Setelah jatuhnya rezim Orde Baru pada 1998, pemutaran film ini dihentikan, dan diskursus kritis tentang akurasi historis serta agenda politiknya mulai muncul.
Generasi milenial dan Gen Z memiliki akses ke informasi alternatif melalui internet, memungkinkan mereka mempertanyakan narasi yang diajarkan sebelumnya.
Baca Juga: BRI Bongkar Sendiri Skandal CT! Pimpinan Cabang Ungkap Fakta Mengejutkan Soal 271 Nasabah Tertipu
Perdebatan tentang peristiwa 1965 kini lebih terbuka dengan berbagai penelitian, dokumenter alternatif, dan testimoni dari perspektif berbeda.
Namun, warisan indoktrinasi tiga dekade melalui film G30S/PKI masih kuat. Di era digital ini, diskusi tentang komunisme atau ideologi kiri masih memicu reaksi emosional di masyarakat Indonesia.
Baca Juga: BRI Bongkar Sendiri Skandal CT! Pimpinan Cabang Ungkap Fakta Mengejutkan Soal 271 Nasabah Tertipu
Generasi muda saat ini menghadapi tantangan unik untuk memahami peristiwa 1965 tanpa terjebak dalam propaganda dan dengan memperhatikan kompleksitas politik saat itu.
Film G30S/PKI menjadi studi kasus penting tentang penggunaan media visual untuk pembentukan opini massal dan kontrol sosial.
Dampak sosial jangka panjang dari film ini termasuk polarisasi masyarakat, stigmatisasi terhadap kelompok tertentu, dan hambatan dalam rekonsiliasi nasional.
Namun, kesadaran kritis yang tumbuh di kalangan generasi muda memberikan harapan bahwa sejarah dapat dipelajari dengan lebih nuansir, objektif, dan manusiawi, tanpa mengurangi pentingnya mengingat tragedi kemanusiaan di masa lalu.
Ikuti terus berita ter-update Radar Situbondo di Google News
Editor : Ali Sodiqin