RADARSITUBONDO.ID - Badan Gizi Nasional tengah mengkaji skema klasterisasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG) untuk memperkuat pendataan kapasitas produksi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kebijakan ini disiapkan agar distribusi layanan dan dukungan operasional dapur di seluruh Indonesia lebih terukur dan tidak disamaratakan.
Baca Juga: Neymar Kembali Absen, Brasil Tanpa Sang Bintang saat Hadapi Haiti di Piala Dunia 2026
Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menegaskan bahwa konsep klasterisasi bukan sekadar penamaan administratif, melainkan dasar pengelompokan kemampuan produksi dapur berdasarkan wilayah dan kapasitas riil di lapangan.
"Salah satu opsi yang akan diambil memang seperti itu ya, klasterisasi dapur (SPPG A,B,C)," kata Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, di Kantor BGN, Kamis (18/6).
Menurutnya, kondisi geografis dan demografis Indonesia menjadi alasan utama perlunya diferensiasi sistem dapur. Wilayah padat penduduk seperti Pulau Jawa tidak bisa diperlakukan sama dengan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang memiliki tantangan distribusi dan infrastruktur berbeda.
"Jadi nanti tentu itu akan berbeda dengan yang di Jawa sistem dapurnya dan sebagainya juga nanti akan berbeda karena memang sementara ini sudah ada tuh yang beberapa dapur yang masuk di 3T ya walaupun belum beroperasi secara penuh lah gitu," terangnya.
Baca Juga: AS-Iran Capai Kesepakatan Awal, Trump Harap Gencatan Senjata Meluas hingga Lebanon
Selain untuk penyesuaian operasional, klasterisasi ini juga berkaitan dengan evaluasi skema insentif yang saat ini berlaku. BGN menyoroti ketidakseimbangan antara besaran insentif harian dengan jumlah penerima manfaat yang dilayani masing-masing SPPG.
"Jadi enggak bisa kalau sekarang kan semua sama rata Rp6 juta per hari walaupun penerima manfaatnya 500, 1.000, 1.500, 3.000 gitu kan enggak fair sebenarnya ya. Nah itu juga nanti penerima manfaatnya juga dipastikan dulu di situ ada berapa gitu kan di daerah yang akan dilayani gitu. Jadi itulah pentingnya kami menyusun data. Jadi salah satu opsinya akan itu," tandasnya.
Editor : Bayu Shaputra