BGN Ingatkan Siswa Tak Bawa Pulang Makanan MBG, Ada Risiko Keracunan

Bayu Shaputra • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:15 WIB
Siswa SD saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). (JawaPos.com)
Siswa SD saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). (JawaPos.com)

 

RADARSITUBONDO.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) meminta peserta didik mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) sesuai waktu dan tempat yang telah ditentukan.

Siswa juga diimbau tidak membawa makanan MBG pulang ke rumah karena kualitas makanan berpotensi berubah setelah berada di luar pengawasan penyelenggara.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan, makanan MBG yang dibawa pulang memiliki risiko mengalami perubahan kualitas. Kondisi tersebut berkaitan dengan cara makanan disimpan setelah keluar dari pengawasan penyelenggara program.

Baca Juga: Ronald Araujo Gabung Liverpool, Dipinjam dari Barcelona hingga 2027

Menurut Sudaryono, makanan MBG yang dibagikan kepada siswa di sekolah merupakan fresh meal. Karena itu, makanan tersebut tidak dirancang untuk disimpan dalam waktu lama dan perlu segera dikonsumsi setelah diterima peserta didik.

BGN bahkan telah meminta agar terdapat keterangan mengenai batas waktu konsumsi pada ompreng MBG. Makanan tersebut maksimal dikonsumsi empat jam setelah matang.

Imbauan tersebut disampaikan Sudaryono agar keamanan makanan yang diterima peserta didik tetap terjaga. Sebab, kondisi makanan setelah dibawa pulang sangat bergantung pada proses penyimpanan yang dilakukan masing-masing keluarga.

“Kami mengimbau kepada para siswa, dan juga memohon kepada Bapak Ibu Guru untuk memberitahu kepada peserta didik, siswa-siswa di kelasnya, untuk kemudian tidak membawa pulang menu makanan MBG ke rumah,” ujarnya, dikutip dari JawaPos.

Baca Juga: AS dan Kanada Kritik Tata Kelola FIFA, Sikap Berseberangan dengan Meksiko

Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar menjelaskan, kondisi makanan setelah dibawa pulang tidak dapat sepenuhnya dipastikan.

BGN tidak mengetahui bagaimana makanan tersebut disimpan sampai akhirnya kembali dikonsumsi oleh siswa maupun anggota keluarga lainnya.

Apabila penyimpanan dilakukan dengan cara yang tidak tepat, kualitas makanan dapat mengalami penurunan. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi orang yang mengonsumsinya.

“Karena makanan yang dibawa pulang ke rumah, kita tidak tahu kualitasnya, tidak tahu kerusakannya, yang bisa jadi dikhawatirkan menimbulkan keracunan bagi siswa yang mengonsumsi,” jelasnya.

Baca Juga: Gempa Kolombia Magnitudo 7,4 Tewaskan 111 Orang, Ribuan Rumah Rusak

Persoalan tersebut menjadi perhatian BGN karena makanan MBG memang disiapkan untuk dikonsumsi dalam kondisi yang telah ditentukan.

Ketika makanan dibawa keluar dari lingkungan sekolah, pengawasan terhadap proses penyimpanan dan waktu konsumsi juga tidak lagi berada sepenuhnya di tangan penyelenggara.

Sudaryono juga mengungkapkan bahwa persoalan makanan MBG yang dibawa pulang tidak hanya berpotensi berdampak kepada siswa.

Dalam sejumlah kasus keracunan yang ditemukan, orang tua siswa disebut turut mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang ke rumah.

“Bahkan di beberapa kasus keracunan yang kami temukan, orang tua siswa yang mengonsumsi MBG di rumah itu kemudian juga mengalami keracunan,” ungkapnya.

Baca Juga: Aturan Penebusan Pupuk Subsidi Berubah, Petani Situbondo Diminta Perbarui KTP

Karena itu, BGN meminta pihak sekolah dan tenaga pendidik ikut berperan dalam memberikan pemahaman kepada peserta didik.

Edukasi tersebut dinilai penting agar siswa mengetahui bahwa paket MBG perlu dikonsumsi sesuai ketentuan, termasuk mengenai waktu dan tempat konsumsi.

Sekolah juga diharapkan membantu mengingatkan peserta didik agar makanan yang telah diterima tidak dibawa pulang. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan pangan sejak makanan diterima siswa hingga dikonsumsi.

BGN menilai keberhasilan program MBG tidak hanya berkaitan dengan tersedianya makanan bergizi bagi peserta didik. Keamanan makanan juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan agar manfaat program dapat diterima secara optimal.

“Jadi, mari kita sama-sama jaga bahwa MBG ini harus aman, MBG ini harus bergizi,” tegas Mas Dar.

Editor : Bayu Shaputra
Sumber : Jawa Pos
Sudaryono MBG BGN